zakat suci dan mensucikan

Mengenai Saya

Foto saya
Perumnas I , Karawaci, Tangerang , Banten, Indonesia
Hp.085715050001 BB.2a0949e4 apikaneh@gmail.com

Jumat, 19 Agustus 2011

"PULANG KAMPOENG"







Pulang kampong

Aroma kampong sudah terhirup dalam pikiran para perantau ,wajah ayah ibu kakak,adik,kakek,nenek dan saudara maupun teman serta tetangga yang di sayangi dengan pertanyaan-pertanyaan dalam batin
Setelah di sibukkan dengan THR yang di terima ditambah tabungan selama  bekerja, rasanya pulang kampong tinggal menunggu waktu, serta persiapan oleh-oleh apa yang pantas dibawa,terbayang wajah bapak ibu yang setahun lalu kondisinya sudah renta dengan goresan keriput kulit muka
Wajah tua yang tidak pernah mengharapkan anak-anaknya memberikan balasan karena telah membesarkan dan mendidiknya,wajah tua yang hanya berharap kelak anaknya hidup bahagia dan juga selalu menyempatkan datang walau hanya satu tahun sekali saja,agar kelak anaknya juga bisa merasakan kebahagiaan ketika anaknya telah menjadi ibu seperti ibunya
Pulang Kampong terasa harum pabila semua bisa dilakukan ,Pulang Kampung terasa mahal kalau kita tidak punya kekuatan silaturohim

Rabu, 17 Agustus 2011

Hidup Bertetangga ala Rosulullah


REPUBLIKA.CO.ID, Tetangga adalah sosok yang
akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak jarang, tetangga kita lebih
tahu keadaan kita ketimbang kerabat kita yang tinggal berjauhan. Saat
kita sakit dan ditimpa musibah, tetanggalah yang pertama membantu kita.
Tak heran, jika Islam begitu menekankan kepada kita untuk berbuat baik
kepada terangga, karena dampak hubungan yang harmonis antar tetangga
mendatangkan maslahat yang begitu besar.

Rasulullah SAW
bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaklah ia berbuat baik kepada terangganya." (HR Bukhari-Muslim).

"Dan berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Muslim." (HR Ibnu Majah).

Semakin
tinggi keimanan seseorang, maka semakin mulia pula akhlaknya kepada
siapa pun, termasuk kepada para tetangganya. Keluhuran akhlak seseorang
bukti kesempurnaan imannya.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah
menggambarkan arti pentingnya kedudukan tetangga dengan berpesan.
"Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap
tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta
kepadanya (tetangganya)." (HR Bukhari-Muslim).

Adab Bertetangga yang Sehat

Menurut
Syekh Muhammad bin Jamil, ada beberapa etika dan adab pergaulan dengan
tetangga yang selayaknya kita perhatikan diantaranya; mencintai kebaikan
untuk tetangga kita sebagaimana kita menyukai kebaikan itu untuk diri
sendiri. Bergembira jika tetangga kita mendapat kebaikan dan
kebahagiaan, serta menjauhi sikap dengki.

Rasulullah SAW
mengajarkan dalam haditsnya, "Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam
genggaman-Nya, tidaklah seseorang beriman hingga ia mencintai untuk
tetangganya, atau beliau berkata, untuk sudaranya apa yang ia cintai
untuk dirinya sendiri." (HR Muslim).

Saat musibah melanda
tetangga sebisa mungkin kita membantunya, baik bantuan materi ataupun
dukungan moril. Menghibur dan meringankan beban penderitaannya dengan
nasihat, tidak menampakan wajah gembira tatkala dia dirundung duka.
Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya serta
membantu pengobatannya bila memang dia membutuhkannya.

Rasulullah
SAW bersabda, "Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara
tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR Bukhari).

Menghindari
sikap yang dapat menyebabkan tetangga kita merasa tersakiti, baik berupa
perbuatan ataupun perkataan. Contohnya, mencela, membeberkan aibnya di
muka umum, memusuhinya, atau melemparkan sampah di muka rumahnya
sehingga menyebabkan ia terpeleset ketika melewatinya, dan jenis
gangguan lainnya.

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya."
(HR Bukhari).

Kunjungilah tetangga pada hari raya dan sambutlah
undangannya jika dia mengundang kita. Pesan Rasulullah, "Hak Muslim atas
Muslim yang lain ada lima; menjawab ucapan salam, menjenguk orang
sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang
bersin." (HR Bukhari).

Bersikap toleran kepada tetangga selama
bukan dalam perkara maksiat. Mendidik keluarga kita untuk tidak
berkata-kata keras atau berteriak-teriak sehingga mengganggu tetangga.
Tidak mengeraskan suara radio atau televisi hingga mengusik ketentraman
tetangga, terutama pada malam hari. Sebab, mungkin diantara mereka ada
yang sedang sakit, lelah, tidur atau mungkin ada anak sekolah yang
sedang belajar.

Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik sahabat adalah
yang paling baik terhadap sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah
yang paling baik terhadap tetangganya." (HR Tirmidzi).Dan hendaklah kita tidak bersikap kikir terhadap tetangga yang membutuhkan bantuan, selama kita bisa membantunya. Rasulullah berpesan, "Janganlah seorang diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya." (HR Bukhari).



Memberikan hadiah kepada tetangga, walau dengan sesuatu yang mungkin kita anggap remeh. Karena saling memberi hadiah akan menumbuhkan rasa cinta dan ukhuwah yang lebih dalam. Dengarlah nasihat Rasulullah, "Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas." (HR Muslim).



Menundukkan pandangan terhadap aurat tetangga, dan tidak pula menguping pembicaraan mereka. Apalagi sampai mengintip ke dalam rumahnya tanpa seizinnya untuk mengetahui aib mereka. Allah SWT berfirman: "Dan katakanlah kepada laki-laki beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangan mereka." (QS An-Nur: 30).



Bersabar dalam menghadapi gangguan tetangga, atau memilih pindah rumah jika memang hal itu memungkinkan. Allah berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS Fushshilat: 34).



Membalas kejahatan tetangga dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Nabi SAW bersabda, "Tiga golongan yang dicintai Allah… dan laki-laki yang memiliki tetangga yang menyakitinya, kemudian ia bersabar menghadapi gangguannya hingga ajal memisahkan mereka." (HR Imam Ahmad).



Jika tidak mampu bersabar menghadapi gangguan tetangga, sementara kita tidak mungkin pindah rumah, maka coba kita terapkan nasihat Rasulullah berikut ini: "Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya,"Pulanglah dan bersabarlah!" Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya,"Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan!" Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata,"Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku." (HR Bukhari)



Memang tiada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap diri kita. Latar belakang yang berbeda menciptakan pribadi yang berbeda.



Wacana yang perlu kita kembangkan adalah bagaimana kita dapat meredam perbedaan yang ada, selama tidak melanggar rambu syariat. Menjalin komunikasi positif dengan menjunjung tinggi akhlak pergaulan. Selamat menuai pahala dari tetangga Anda.